kaleb.nugraha.riva


PASRAH
February 20, 2009, 1:37 pm
Filed under: jagad sastra

Awal tahun yang sanggat menyenagkan buat para petani di Sidorejeki,hujan turun dengan derasnya menghasilkan tetesan air yang menenagkan kalbu. Hujan memang suatu berkah sendiri buat mereka karena dengan turunya hujan sawah-sawah mereka menjadi basah,bunga-bunga merekah dengan indahnya. Sama seperti hujan kehadiran pak guru Hasan juga membawa berkah bagi kota ini,senyumnya yang ramah dan tawanya yang menghadirkan kemesraan menjadikan jawaban buat penduduk tentang sosok guru idola.

“pagi bang guru mau ngajar ya?””nanti sesudah ngajar main ke rumah ibu ya,ibu bikinkan opor buat bang guru” sapa Bu Ijah yang menagngap Hasan seperti anak sendiri.

“oh.. boleh bu,tapi nanti saya pulangnya agak sore karena harus mengajar kelas tambahan” jawabnya ramah

Kehadiran Hasan tidak hanya menjadi jawaban bagi penduduk desa tapi juga membawa perubahan buat SMP Internasional Harta Negara,sekolah yang selalu mendapatkan tekanan dari orang tua murid dan pemerintah,Hasan menjadi jawaban tentang guru yang dirindukan banyak orang (pintar,kreatif,aktif dan penuh dedikasi) semua orang mencintainya termasuk KEPSEK Tedjo,KEPSEK yang terkenal garang,menjadi luluh karena keuletean Pak guru Hasan.

Namun indahnya hujan selalu dinodai oleh jahatnya kilatan petir,kehadiran Hasan juga dinodai oleh jahatnya duo TI,bu guru Surti dab Yati yang tidak suka dengan kehadiran Hasan,lebih tepatnya cemburu,karena mereka merasa lebih berpengalaman daripada Hasan,mereka selalu berusaha menjatuhkan Pak guru Hasan.

“aneh sekali si innocent hasan itu sok pintar sok aktif jengkelke” omel Surti

“iya mbak moso anak kelas 1 disuruh nulis paragraph 100 kata opo yo mudeng,lha wong tak ajarin bikin satu kalimat aja masih keteteran,kentir tuh si Hasan” imbuh Yati

Sial memang nasib Hasan gaji enggak seberapa perjuangan keras,karena tuntutan jaman anak-anak harus pintar berbahasa inggris,ditambah lagi diomelin terus sama duo TI. Malang tak bisa ditepis untung tak bisa diraih akhirnya hasan terjebak dalam jebakan maut duo TI,ketika Pak KADES datang hasan dipojokan oleh duo TI,dituduh menyiksa murid dan melanggar hak asasi murid karena Hasan mengajarkan sesuatu yang terlalu susah,ditambah lagi dia sering memaksa murid mengikuti kelas tambahan. Sadar dirinya dipojokan Hasan naik pitam dia membela diri,namun dengan cara yang salah sedikit emosional,jadilah Hasan memiliki citra buruk di depan Pak KADES.

Malam ini menjadi perenungan sendiri buat Hasan,penyesalan atas semua kesalahan yang dia buat.

“nasib-nasib,aku kok selalu susah ya””lagian aku sih jadi guru kok emosional” keluhnya dalam hati.

seperti hadirnya pelangi sesudah hujan harapan yang diberikan kepsek Tedjo membuat hidup hasan sedikit lebih cerah.

“tenang aja san nanti bapak bantu kamu”



DEDIKASI
February 12, 2009, 6:19 am
Filed under: jagad sastra

Banyak hal yang berubah setelah 5 tahun tua koko meninggalkan kota manis,tempat dia menghabiskan masa kecilnya,lampu-lampu jalan mulai berwarna-warni dan jalan mulai diaspal mulus.Tidak hanya hal itu bahkan guru-gurunya yang dulu masih aktif bagaikan atlit PON pun sekarang sudah berubah menjadi sedikit kurang aktif dan semangat–karena faktor usia.
Namun satuhal yang tidak pernah berubah dari kota kecil ini,karena hanya ada 600 jiwa di dalamnya,yaitu cinta dan kehangatan.TIdak ada kecurigaan dan prasangka buruk di sini yang ada hanya kecupan dan kemanisan saja.Ini dibuktikan ketika dia menginjakan kaki di BANDARAISKA,lapangan udara kota ini,portir-portirnya masih semanis yang dulu mereka masih seramah yang dulu.Ditambah lagi,anak-anak dari ribuan suku di negeri ini masih berkumpul di sana.
“selamat datang tuan” sapa guru-guru calon rekan kerja tuan koko,”semoga betah mengjar di sini” tambah mereka.Kehangatan orang-orang ini masih sehangat yang dulu mereka sangat bangga menyambut tuan berbadan gemuk berkacamata ini sebagai rekan kerja mereka yang baru.
“kamu tau enggak sih koko sudah pulang,dia sekarang jadi orang hebat jadi,guru profesional” kata Ling-ling teman sekelas tuan koko dulu.”itu sih sudah biasa ling,kada ingat kah ikam pas inya halus dulu,sekolahnya rajin,inya tuh giat bagawi” imbuh Rumpiah teman kecil tuan koko.”tapi yang ulun bingung mak ai beapa garang tuan tuh handak mangajar di sini kenapa kadak di tempat lahirnya ja”tanya Ridho,anak LIng-ling,yang mengundang amarah Ling-ling.
Sedikit membingungkan memang kenapa tuan bermata sipit,berambut ikal dan beritak brilian ini mau kembali ke kota kecil ini,padahal ada banyak kota besar yang mau meperkerjakannya.Banyak orang menebak munkin karena tuan ini bosan kermaian dan merindukan suasana seperti di kota ini.
Sampai sekarang belum ada yang bisa menebak teka-teki di atas si datuk,orang paling bijak di kota manis,pun tidak.Semuanya itu membuat koko tertawa,”ha..ha..ha ada-ada saja orang-orang ini””dulu aku pernah berpikir untuk tidak kembali ke sini,tapi hatiku selalu berkata jangan melemparkan lumpur kepada sumur yang memberimu air” tawanya dalam hati.