kaleb.nugraha.riva


DEDIKASI
February 12, 2009, 6:19 am
Filed under: jagad sastra

Banyak hal yang berubah setelah 5 tahun tua koko meninggalkan kota manis,tempat dia menghabiskan masa kecilnya,lampu-lampu jalan mulai berwarna-warni dan jalan mulai diaspal mulus.Tidak hanya hal itu bahkan guru-gurunya yang dulu masih aktif bagaikan atlit PON pun sekarang sudah berubah menjadi sedikit kurang aktif dan semangat–karena faktor usia.
Namun satuhal yang tidak pernah berubah dari kota kecil ini,karena hanya ada 600 jiwa di dalamnya,yaitu cinta dan kehangatan.TIdak ada kecurigaan dan prasangka buruk di sini yang ada hanya kecupan dan kemanisan saja.Ini dibuktikan ketika dia menginjakan kaki di BANDARAISKA,lapangan udara kota ini,portir-portirnya masih semanis yang dulu mereka masih seramah yang dulu.Ditambah lagi,anak-anak dari ribuan suku di negeri ini masih berkumpul di sana.
“selamat datang tuan” sapa guru-guru calon rekan kerja tuan koko,”semoga betah mengjar di sini” tambah mereka.Kehangatan orang-orang ini masih sehangat yang dulu mereka sangat bangga menyambut tuan berbadan gemuk berkacamata ini sebagai rekan kerja mereka yang baru.
“kamu tau enggak sih koko sudah pulang,dia sekarang jadi orang hebat jadi,guru profesional” kata Ling-ling teman sekelas tuan koko dulu.”itu sih sudah biasa ling,kada ingat kah ikam pas inya halus dulu,sekolahnya rajin,inya tuh giat bagawi” imbuh Rumpiah teman kecil tuan koko.”tapi yang ulun bingung mak ai beapa garang tuan tuh handak mangajar di sini kenapa kadak di tempat lahirnya ja”tanya Ridho,anak LIng-ling,yang mengundang amarah Ling-ling.
Sedikit membingungkan memang kenapa tuan bermata sipit,berambut ikal dan beritak brilian ini mau kembali ke kota kecil ini,padahal ada banyak kota besar yang mau meperkerjakannya.Banyak orang menebak munkin karena tuan ini bosan kermaian dan merindukan suasana seperti di kota ini.
Sampai sekarang belum ada yang bisa menebak teka-teki di atas si datuk,orang paling bijak di kota manis,pun tidak.Semuanya itu membuat koko tertawa,”ha..ha..ha ada-ada saja orang-orang ini””dulu aku pernah berpikir untuk tidak kembali ke sini,tapi hatiku selalu berkata jangan melemparkan lumpur kepada sumur yang memberimu air” tawanya dalam hati.

Advertisements

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: